Studi

Nasehat Sahabat & Para Ulama Agar Menjaga Lisan

menjaga-lisan-dan-perbuatan-di-bulan-ramadhan-adalah-penting-agar-puasa-kita-lebih-bermakna-dan-memiliki-hikma-puasa-yang-penuh-berkah-dan-rahmat-dari-allah

Oleh : Ustadz A Nadhilah

Dalam Islam, menjaga lisan adalah perkara yang sangat penting. Rosulullah SAW., bersabda:

َ…ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻙَ ﺑِﻤَﻼَﻙِ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻠِّﻪِ ؟ ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﺑَﻠﻰَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ . ﻓَﺄَﺧَﺬَ ﺑِﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝِ : ﻛُﻒَّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻫَﺬَﺍ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻤُﺆَﺍﺧَﺬُﻭْﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﻧَﺘَﻜَﻠَّﻢَ ﺑِﻪِ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺛَﻜِﻠَﺘْﻚَ ﺃُﻣُّﻚَ، ﻭَﻫَﻞْ ﻳَﻜُﺐَّ ﺍﻟﻨَﺎﺱُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻬِﻢْ – ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠﻰَ ﻣَﻨَﺎﺧِﺮِﻫِﻢْ – ﺇِﻻَّ ﺣَﺼَﺎﺋِﺪُ ﺃَﻟْﺴِﻨَﺘِﻬِﻢْ . ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ‏]

“…Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu (Islam, Sholat, dan Jihad) ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkel wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Sahabat dan ulama Salafus Sholeh juga banyak memberikan nasehat kepada umat Islam agar menjaga lisan.

Imam Al-Auza’i rohimahullôh mengatakan:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻳُﻘِﻞُّ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡَ ﻭَﻳُﻜْﺜِﺮُ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞَ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖَ ﻳُﻜْﺜِﺮُ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡَ ﻭَﻳُﻘِﻞُّ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞَ

“Sesungguhnya seorang mukmin mempersedikit ucapan dan memperbanyak amal. Dan orang munafik memperbanyak ucapan dan sedikit amal.” [ “Shifâtun Nifâq”  (no.91) ]

Kholifah kedua dalam Islam, Umar bin Khotthob pernah berkata:

“Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya” [ Riwayat al-Qudha`i dalam Musnad asy-Syihab, no. 374. Ibnu Hibban dalam Raudhatul-‘Uqala`, hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339].

Sementara itu, Sahabat Ibnu Mas’ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu berkata:

“Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah! Di muka bumi ini, tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah” [ Riwayat Ibnu Hibban dalam Raudhatul-‘Uqala`, hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 340].

Beliau r.a., juga berkata :

“Jauhilah fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya” [Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339].

Syaqiq berkata: ‘Abdullah bin Mas’ud bertalbiyah di atas bukit Shafa, kemudian berseru: “Wahai lidah, katakanlah kebaikan, niscaya engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah, niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal”.
Orang-orang bertanya: “Wahai Abu ‘Abdurrahman, apakah ini suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?”
Dia menjawab, “Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ

“(kebanyakan kesalahan anak Adam ialah pada lidahnya)” [ HR Thabrani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, no. 534].

Sahabat yang lain, Ibnu ‘Abbas r.a., (sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Buraidah) pernah memegangi lidahnya sambil berkata, ‘Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal’.” [Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 161]

Imam  An-Nakha`i berkata:

“Manusia binasa pada fudhûlul-mâl (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan)” [ Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339].

Diriwayatkan, bahwasanya ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang ‘alim besar. Kemudian orang ‘alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab: “Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu, dahulu aku pernah mengatakan, ‘manusia sangat membutuhkan hujan’.” Aku ditanya: “Tahukah engkau bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap maslahat hamba-hamba-Ku?” [ Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 160-161].

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Seorang mukmin itu ialah menyedikitkan perkataan dan memperbanyak amal. Adapun orang munafik, ia memperbanyak perkataan dan menyedikitkan amal”.

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku”.

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi”

[ Hashâ`idul-Alsun, hlm. 175-176].

Wallahu’alam bis showab!

Total Views: 901 ,

Latest News

To Top