Dunia Islam

Ghibah yang Diperbolehkan

istock_000000618052medium

Oleh : Zahra Sauqiyah

Manusia manakah yang tidak pernah berghibah? Semua manusia pasti pernah berghibah. Melihat tetangga punya mobil baru diomongin, mendengar kerabat naik jabatan digosipin, melihat teman sedang berduka dikatain, dan masih banyak lagi kebiasaan jelek manusia. Kalau orang bilang, senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Naudzu billah min dzalik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.”[QS. Al-Qasas: Ayat 55]

Ketika kita mendengarkan perkataan yang buruk, sebaiknya kita mencegah dan meluruskan agar tidak berkepanjangan menjadi bahan gunjingan dan kalau tidak bisa dicegah sebaiknya kita tinggalkan.

Bagaimana kalau ada yang mengatakan, gimana bisa dapat solusi kalau tidak kita bicarakan bahwa si fulan itu seorang musuh kita? Ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar menurut syariat, dimana tujuan tersebut tidak tercapai kecuali dengan ghibah. Keadaan yang bagaimana diperbolehkan berghibah?

Ada 6 keadaan yang membolehkan berghibah yakni :

Pertama, pengaduan terhadap penganiayaan. Orang yang dianiaya boleh mengadukan orang yang menganiayanya kepada penguasa atau orang-orang yang mempunyai kekuasaan, atau kemampuan untuk menyadarkan tindakan aniaya itu. Misalnya orang yang dianiaya itu mengatakan, “Fulan menganiayaku dengan perbuatan demikian.”

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ada seseorang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, kemudian beliau bersabda,”Berilah izin orang itu. Ia adalah sejahat-jahat saudara dari kabilah tersebut.”(Mutaffaq’alaih)

Imam Nawawi meredaksikan kebolehan ghibah terhadap orang yang melakukan kerusakan, sebagai peringatan agar kita tidak tertipu oleh aspek lahiriah mereka.

Kedua, meminta tolong untuk menghilangkan kemungkaran dan menegur orang yang berbuat maksiat. Misalnya, seseorang berkata kepada orang yang diharapkan bisa melenyapkan kemungkaran,”Fulan berbuat begini” dan sebagainya dengan maksud untuk melenyapkan kemungkaran. Seandainya tidak dengan maksud untuk melenyapkan kemungkaran, maka hal itu
diharamkan.

Ketiga, meminta fatwa atau nasehat. Misalnya, seseorang berkata kepada orang yang biasa memberi fatwa,”Aku diperlakukan begini oleh ayah, saudaraku, istriku, atau fulan. Bagaimana sebaiknya?” Tetapi sebaiknya kalimatnya begini,”Bagaimana pendapat anda mengenai seseorang atau suami yang demikian perangainya?” Karena, kalimat ini dapat mencapai maksud tanpa menyebut nama atau figur. Meski demikian, menyebut nama atau figur itu boleh, sebagaimana hadist berikut :

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,”Hindun yang istri Abu Sufyan itu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ,’Sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang kikir. Ia tidak pernah memberi belanja yang cukup untukku dan anakku, kecuali bila aku mengambil tanpa sepengetahuannya.’ Beliau bersabda,’Ambillah belanja yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”’.(Mutaffaq’alaih)

Keempat, memberi peringatan atau nasehat kepada kaum muslimin agar tidak terjerumus ke dalam kejahatan. Misalnya, mengkritik para perawi yang cacat, menyampaikan kesaksian di peradilan, musyawarah untuk perjodohan.

Dari Fathimah bin Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku datang kepada Rasulullah shallallahu‘alayhi wasallam dan bertanya,’Sesungguhnya aku telah dilamar oleh Abul Jahm dan Mu’awiyah.’Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,’Adapun Mu’awiyah itu orang yang miskin tidak mempunyai harta kekayaan,sedangkan Abul Jahm itu tidak pernah menaruh tongkat dari pundaknya (suka memukul).”(Mutaffaq’alaih)

Dalam riwayat Muslim dikatakan ,”Adapun Abul Jahm itu orang yang suka memukul istrinya.”kalimat ini merupakan tafsir bagi riwayat “tidak pernah menaruh tongkat dari pundaknya.” Pendapat lain mengatakan bahwa maknanya adalah ia banyak bepergian.

Kelima, orang yang melakukan perbuatan fasik atau bid’ah secara terang-terangan, seperti minum khamr di tempat umum, merampas milik orang lain, atau meminta dengan paksa, melakukan perkara-perkara batil. Boleh menyebut perbuatan–perbuatan tersebut yang dilakukan secara terang-terangan, tetapi haram menyebut aib-aib yang tidak demikian, kecuali ada sebab lain.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia.berkata, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,”Aku tidak mengira sedikitpun kalau fulan dan fulan itu mengetahui sesuatu tentang agama kami.”(HR. Bukhari)

Menurut Imam Bukhari, salah satu perawi hadits ini yang bernama Al Laits bin Sa’ad berkata,” Kedua laki-laki ini adalah orang-orang munafik.”

Keenam, mengidentifikasi seseorang apabila ia dikenal dengan suatu julukan seperti si buta, si tuli, si bisu dan sebagainya. Dalam hal ini kita boleh mengidentifikasikannya dengan julukan tersebut, tetapi kalau maksudnya mengejek atau menghina, maka hukumnya haram.

Seandainya kita bisa mengidentifikasikannya dengan julukan selainnya, maka itu lebih baik. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshowab.

Total Views: 757 ,

Latest News

To Top