Internasional

Donald Trump Menjabat Presiden, Awal Kehancuran AS?

150423113932-donald-trump-1024x576

Ibrahim Sulaiman, Alfath Media (18/11/2016)

Kemenangan partai republik, memberikan kesempatan kepada Donald Trump untuk menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat. Terpilihnya pengusaha Real Estate tersebut, memberikan suasana baru di dunia perpolitikan AS. Hal yang paling tersorot adalah tendensius Trump kepada umat Islam. Kampanye-kampanye Trump yang menyudutkan kaum minoritas dilakukan dengan terang-terangan menjadi sebuah intimidasi bagi masyarakat Muslim di AS.

Kebencian Trump Kepada Penduduk Muslim

Setelah sepekan sejak Donald Trump dinyatakan memenangi pemilu presiden, beberapa kasus rasisme, sentimen Islamofobia, dan xenophobia muncul di beberapa daerah di Amerika Serikat. Bahkan menyebut warga Muslim sebagai masalah di negaranya. Trump juga mengatakan umat Islam dilarang masuk ke AS dengan alasan keselamatan dan keamanan warganya.

Sikap Trump ini akan menyadarkan umat Islam di Amerika Serikat dan juga di seluruh dunia bahwa AS merupakan musuh bersama dan bukan negara yang aman bagi umat Islam. Dengan begitu benih-benih kebencian di dalam negeri ‘Adidaya’ itu pun mulai tumbuh yang lambat laun berubah menjadi peperangan.

Sikap Trump Terhadap Kasus Israel – Palestina

Trump sepenuhnya mendukung kebijakan Israel terhadap kasusnya dengan Palestina, walaupun Trump beralasan berada di pihak netral.

Perang Melawan Terorisme

Trump menyatakan di dalam website kampanyenya bahwa dia akan memberikan kejutan untuk Islamic State. Menurut laporan IB Times, kamis (10/11/2016), Trump akan bekerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, seperti Yordania, Israel, Mesir untuk bersama memerangi Islamic State.

Presiden baru AS ini juga akan mempertimbangkan kerjasamanya dengan Rusia terkait perang Suriah. Dia berupaya mengajak Rusia untuk memerangi Islamic State secara masiv.

Namun demikian, Islamic State bukanlah lawan sembarangan. Mereka orang-orang terlatih dan menguasai lapangan, sehingga sulit bagi negara-negara yang dianggap super power seperti AS dan Rusia untuk menggempur eksistensi IS. Nampaknya IS menjadi sebuah negara yang sangat kuat jika dilihat dari gaya peperangan melawan kelompok-kelompok lokal seperti Peshmerga, PKK, dan pasukan Syiah Nusayriyah.

Perang melawan IS akan menguras banyak tenaga dari negara-negara di dunia. Terlebih AS diminta berperan aktif dalam menanggulangi penyebaran IS di beberapa wilayah negara di Afrika dan Timur Tengah. Hal ini menjadi beban berat AS dan menjadikan negara adidaya ini mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Diprediksikan IS masih akan eksis walaupun AS dan Rusia turun tangan. Bahkan dampaknya akan merubah peta pertempuran, bisa jadi peperangan ini digiring ke negara-negara sekutu AS.

Sumber : Warsjournal.com

Total Views: 570 ,

Latest News

To Top