Akhir Zaman

Akhir Zaman, Refleksi Hijrah Hari Ini

jihraj

Oleh : Dzulqarnain

Setiap memasuki bulan Muharrom, kaum Muslimin selalu teringat dengan peristiwa hijrahnya Rosulullah saw., bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Kini, setelah berlalunya peristiwa tersebut, bagaimanakah refleksi hijrah di akhir zaman?

Ternyata, hijrah di dalam Islam masih terus berlaku hingga sebelum kiamat terjadi. Rasulullah saw bersabda :

“Hijrah tidak terputus selama taubat masih diterima. Dan taubat akan senantiasa diterima hingga terbitnya matahari dari arah barat. Apabila telah terbit (dari arah barat), ditutuplah setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya, dan cukuplah manusia amal (yang telah dilakukannya)”.(HR. Ahmad)

Berdasarkan hadits di atas maka perintah hijrah di akhir zaman akan berakhir di saat matahari telah terbit dari barat, karena pada masa itu pintu taubat telah tertutup, Sehingga orang yang menyesal setelah matahari terbit dari barat dan ingin hijrah akan tetapi hijrah pada masa itu adalah hijrah yang sia-sia karena masa untuk taubat telah tertutup. Adapun sebelum hal itu terjadi, maka pintu hijrah masih terbuka seluas-luasnya.

Abdullāh Ibn ‘Amr (radiyallāhu ‘anhumā) berkata bahwasanya Rasulullah (sallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda:

“Akan ada hijrah setelah hijrah. Orang-orang terbaik di muka bumi adalah mereka yang tinggal di tempat hijrahnya nabi Ibrahim (Syam). Lalu yang akan tersisa di bumi (selain Syam) adalah seburuk-buruk manusia. Bumi memuntahkan mereka, Allah akan membenci mereka, dan api akan mengumpulkan mereka bersama kera dan babi. ” [hasan – diriwayatkan oleh Imām Ahmad, Abū Dāwūd, dan al-Hākim]

Adapun perkataan Rasulullah, “ Lalu yang akan tersisa di bumi (selain Syam) adalah seburuk-buruk manusia…[sampai akhir hadits]” mengacu kepada periode setelah “Allah mengirimkan angin lembut yang mencabut nyawa setiap orang yang memiliki iman dalam hatinya walau seberat biji sawi. Kemudian yang tersisa hanyalah mereka yang tidak memiliki kebaikan apapun dalam diri mereka ” [Sahih Muslim].

Dalam riwayat lain, “Jadi angin lembut itu menggenggam mereka dibawah ketiaknya, mencabut nyawa dari setiap orang yang beriman dan setiap muslim. Dan di sana hanya akan tersisa seburuk-buruk manusia, yang berzina seperti para kera [melakukan perzinaan di hadapan umum]. Maka atas merekalah Hari kiamat akan ditegakkan” [Sahih Muslim]

Dalam riwayat lain :

“ Allah akan mengirim angin dingin dari arah Syam, maka tidak seorangpun yang akan tersisa di muka bumi yang memiliki iman atau kebaikan walau hanya seberat biji sawi kecuali akan dicabut (nyawanya) oleh angin itu. Bahkan jika seseorang diantara kalian bersembunyi di tengah-tengah gunung sekalipun, angin itu akan memasukinya sampai mencabut nyawanya. Lalu disana hanya akan tersisa seburuk-buruk manusia, yang memiliki kelincahan seperti burung (begitu cepatnya dalam melakukan maksiat dan memuaskan hawa nafsunya) dan akal yang sekejam binatang predator (dalam permusuhan dan penindasan satu sama lain). Mereka tidak memiliki kebaikan apapun, mereka juga tidak mengingkari kejahatan apapun. ”[Sahih Muslim]

Angin lembut ini mencabut setiap nyawa dari orang beriman diseluruh muka bumi : Al-Hijaz, Iraq, Yaman, Syam, dan seterusnya. Angin ini akan dikirim ke permukaan dalam beberapa tahun setelah kematian Dajjal dan wafatnya Nabi Isa al-Masih (‘alayhisallam)

Syaikhul-Islam Ibn Taymiyyah (rahimahullah) berkata, “Islam pada saat mendekati Hari Kiamat akan lebih berwujud di Syam.[…] Jadi orang-orang terbaik di muka bumi pada akhir zaman adalah mereka yang tinggal di tempat hijrahnya Nabi Ibrahim (‘alayhisallam), yang mana itu adalah Syam” [Majmū’ul-Fatāwā].

Ibn Taymiyyah (rahimahullah) juga berkata, “ Maka beliau mengkabarkan bahwa penduduk terbaik di muka bumi adalah mereka yang mendiami tempat hijrah Nabi Ibrahim (‘alayhisallam), berbeda dengan orang-orang yang hanya melewatinya atau malah meninggalkannya.

Bahkan hijrah di akhir zaman dianggap sama dengan hijrah yang dilakukan Shahabat Rasulullah (sallallāhu ‘alayhi wa sallam) saat dari Mekkah menuju Madinah, sebagaimana penjelasan tambahan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ul Fatawa.

Wallahu’alam bus showab!

Total Views: 1144 ,

Latest News

To Top