Akhir Zaman

Akhir Zaman, Kaum Muslimin Damai Dengan Romawi

rom

Oleh : Dzulqarnain

Peristiwa penting di akhir zaman adalah berdamainya (gencetan senjata) antara Romawi dengan Kaum Muslimin. Hal tersebut sebagaimana nubuwwah Rosulullah saw., :

ستصالحون الروم صلحا آمنا فتغزون أنتم وهم عدوا من ورائكم، فتنصرون وتغنمون وتسلمون ثم ترجعون حتى تنزلوا بمرج ذي تلول فيرفع رجل من أهل النصرانية الصليب فيقول: غلب الصليب، فيغضب رجل من المسلمين فيدقه، فعند ذلك تغدر الروم وتجمع للملحمة).

“Kalian akan shulh (mengadakan perjanjian damai, gencatan senjata) dengan Bangsa Romawi dengan perjanjian aman. Kemudian kalian dan mereka (Romawi) akan memerangi musuh di belakang kalian. Kalian akan dimenangkan Allah, dan meraih ghanimah dengan selamat. Setelah itu kalian (dan Romawi) berkumpul di Marj Dzi Tullul (sebuah dataran tinggi). Lantas seorang Salibis Romawi mengangkat salib sambil berteriak: “Hidup Salib!” Seorang mukmin kemudian marah dan mematahkan salib tersebut. Kemudian Romawi marah dan mengkhianati perjanjian, dan kaum muslimin bersatu melawan mereka. Saat itulah terjadi Al Malhamah Al Kubra.” [HR. Abu Dawud, 4292]

Hadits di atas secara jelas memaparkan kronologis hubungan Romawi dengan Kaum Muslimin di akhir zaman hingga terjadinya Al Malhamah Al Kubro.

Di hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’ bin Utbah, Rosulullah SAW., bersabda :

“Kalian akan memerangi (menaklukkan/membebaskan) semenanjung Arab dan Allah SWT., akan menaklukkan-nya untuk kalian. Kemudian Parsi juga ditaklukkan Allah SWT., untuk kalian. Setelah itu Romawi pun juga ditaklukkan. Terakhir kalian akan memerangi dajjal, maka Allah memberikan kemenangan (bagi kalian) atas dajjal.” Nafi’ berkata, “Hai Jabir, ketahuilah bahwa kita tidak akan melihat dajjal muncul sebelum Romawi ditaklukkan terlebih dahulu.

Mengutip pendapat DR. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh dalam buku “Ensiklopedi Akhir Zaman” dikatakan :

“…besar kemungkinan maksud penaklukkan Romawi ialah (mencakup) peperangan antara kaum Muslimin melawan Romawi di akhir zaman”.

Dalam bukunya tersebut, DR. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh mengatakan bahwa Romawi di akhir zaman adalah AS dan sekutu-sekutunya, adapun musuh bersama yang digempur (bersama umat Islam) adalah Yahudi Israel.

Kembali kepada perjanjian damai antara kaum Muslimin dengan Romawi, ternyata terjadi pasca penaklukkan Syam dan pengosongan Yastrib, sebagaimana penjelasan dari hadits berikut :

ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺳَﺔُ ﻫُﺪْﻧَﺔٌ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺑَﻨِﻲ ﺍﻟْﺄَﺻْﻔَﺮِ ﻓَﻴَﺴِﻴﺮُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻤَﺎﻧِﻴﻦَ ﻏَﺎﻳَﺔً ﻗُﻠْﺖُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﻐَﺎﻳَﺔُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺍﻳَﺔُ ﺗَﺤْﺖَ ﻛُﻞِّ ﺭَﺍﻳَﺔٍ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﻓُﺴْﻄَﺎﻁُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻓِﻲ ﺃَﺭْﺽٍ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﺍﻟْﻐُﻮﻃَﺔُ ﻓِﻲ ﻣَﺪِﻳﻨَﺔٍ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﺩِﻣَﺸْﻖُ

“Dan periode keenam adalah perdamaian antara kalian (kaum muslimin) dengan Bani Ashfar (yaitu Romawi atau Eropa). Kemudian mereka akan berjalan (memerangi kalian) di atas 80 ghayah.” Aku (perawi hadits) bertanya: “Apa itu ghayah?” Beliau menjawab: “Yaitu bendera. Masing-masing bendera membawahi 12.000 pasukan. Perkemahan kaum muslimin ketika itu adalah di sebuah tempat yang bernama Ghuthah di kota yang bernama Damasykus.” [HR. Ahmad: 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad Ahmad berkata: “Isnadnya shahih menurut kriteria Muslim.”]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah menguasai Damaskus saat “ash shulh” (perjanjian damai/gencetan senjata) dilaksanakan.

Adapun terkait dengan pengosongan Madinah (Yatsrib) diriwayatkan sebagai berikut :

( ﻋﻤﺮﺍﻥ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ ﺧﺮﺍﺏ ﻳﺜﺮﺏ، ﻭﺧﺮﺍﺏ ﻳﺜﺮﺏ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻠﺤﻤﺔ، ﻭﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻠﺤﻤﺔ ﻓﺘﺢ ﻗﺴﻄﻨﻄﻴﻨﻴﺔ، ﻭﻓﺘﺢ ﺍﻟﻘﺴﻄﻨﻄﻴﻨﻴﺔ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ )

Kemakmuran Baitul Maqdis diikuti dengan pengosongan Yatsrib. Pengosongan Yatsrib diikuti dengan Al Malhamah, Al Malhamah dengan Penaklukan Konstantin, Penaklukan Konstantin dengan keluarnya Dajjal. [HR. Abu Dawud 4294]

Dengan demikian, peristiwa menuju Al Malhamah Al Kubro akan melewati fase-fase berikut ini, wallahu’alam bis showab.

1. Penaklukan Jazirah,
2. Penaklukan Syam,
3. Pengosongan Madinah
4. Penaklukan Persia,
5. Al Malhamah Al Kubro (penaklukan Romawi)
6. Penaklukan Konstantin yang kedua
7. Kemunculan Dajjal.

Berdasarkan zhahir hadits yang dikutip di awal, yang pasti adalah bahwa peristiwa “ash shulh” dan memerangi “musuh dari belakang” terjadi beruntun, karena Rasul menggunakan kata “fa” yang maksudnya tidak ada jeda.

Sedangkan peristiwa Al Malhamah Al Kubro sendiri terjadi saat kaum muslimin pulang dari peperangan melawan “musuh dari belakang” tadi.

Artinya, jeda hanya terjadi sesaat seusai peperangan sebelum akhirnya kaum Muslimin pulang, dan Rasul tidak menceritakan adanya peristiwa besar yang lain sebelum terjadinya Al Malhamah Al Kubro.

Faktanya, pada saat peristiwa “ash shulh” dan Al Malhamah Al Kubro terjadi, kaum muslimin sudah memiliki benteng dan perkemahan di bumi Syam yang diberkahi. Artinya, bumi Syam sudah ditaklukan oleh kaum Muslimin, sebagaimana hadits berikut:

” ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻤﻠﺤﻤﺔ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻓﺴﻄﺎﻁ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ، ﺑﺄﺭﺽ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﻐﻮﻃﺔ ، ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺪﻳﻨﺔ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺩﻣﺸﻖ ، ﺧﻴﺮ ﻣﻨﺎﺯﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻳﻮﻣﺌﺬ ” ” ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻹﺳﻨﺎﺩ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺮﺟﺎﻩ .

Perkemahan kaum muslimin pada hari Al Malhamah adalah di Ghouthah, dekat kota Damaskus, itulah sebaik-baik tempat bagi kaum muslimin pada hari itu. [Mustadrak Ala Shahihain Kitabul Fitan wal Malahim 8543]

Dengan kata lain, setelah Persia ditaklukan barulah kaum Muslimin menaklukan Syam, lalu mengadakan perjanjian dengan Romawi, lalu memerangi “pasukan dari belakang”, lalu terjadilah Al Malhamah Al Kubro, yaitu pertempuran besar-besaran antara Romawi melawan umat Islam dan akhirnya Romawi dapat ditaklukan dengan idzin Allah.

Adapun peristiwa Al Malhamah Al Kubro terjadi setelah Romawi mendatangi A’maq atau Dabiq, sebagaimana hadits :

ﻻ ﺗﻘﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﺰﻝ ﺍﻟﺮﻭﻡ ﺑﺎﻷﻋﻤﺎﻕ ﺃﻭ ﺑﺪﺍﺑﻖ ﻓﻴﺨﺮﺝ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺟﻴﺶ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ ﺧﻴﺎﺭ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺭﺽ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﻓﺈﺫﺍ ﺗﺼﺎﻓﻮﺍ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﺮﻭﻡ ﺧﻠﻮﺍ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺳﺒﻮﺍ ﻣﻨﺎ ﻧﻘﺎﺗﻠﻬﻢ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻻ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻧﺨﻠﻲ ﺑﻴﻨﻜﻢ ﻭﺑﻴﻦ ﺇﺧﻮﺍﻧﻨﺎ ﻓﻴﻘﺎﺗﻠﻮﻧﻬﻢ ﻓﻴﻨﻬﺰﻡ ﺛﻠﺚ ﻻ ﻳﺘﻮﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﺑﺪﺍ ﻭﻳﻘﺘﻞ ﺛﻠﺜﻬﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﻔﺘﺘﺢ ﺍﻟﺜﻠﺚ ﻻ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﺃﺑﺪﺍ ﻓﻴﻔﺘﺘﺤﻮﻥ ﻗﺴﻄﻨﻄﻴﻨﻴﺔ ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻢ ﻳﻘﺘﺴﻤﻮﻥ ﺍﻟﻐﻨﺎﺋﻢ ﻗﺪ ﻋﻠﻘﻮﺍ ﺳﻴﻮﻓﻬﻢ ﺑﺎﻟﺰﻳﺘﻮﻥ ﺇﺫ ﺻﺎﺡ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺴﻴﺢ ﻗﺪ ﺧﻠﻔﻜﻢ ﻓﻲ ﺃﻫﻠﻴﻜﻢ ﻓﻴﺨﺮﺟﻮﻥ ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺎﻃﻞ ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﺧﺮﺝ ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻢ ﻳﻌﺪﻭﻥ ﻟﻠﻘﺘﺎﻝ ﻳﺴﻮﻭﻥ ﺍﻟﺼﻔﻮﻑ ﺇﺫ ﺃﻗﻴﻤﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻨﺰﻝ ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﻣﻬﻢ ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺁﻩ ﻋﺪﻭ ﺍﻟﻠﻪ ﺫﺍﺏ ﻛﻤﺎ ﻳﺬﻭﺏ ﺍﻟﻤﻠﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻓﻠﻮ ﺗﺮﻛﻪ ﻻﻧﺬﺍﺏ ﺣﺘﻰ ﻳﻬﻠﻚ ﻭﻟﻜﻦ ﻳﻘﺘﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻴﺪﻩ ﻓﻴﺮﻳﻬﻢ ﺩﻣﻪ ﻓﻲ ﺣﺮﺑﺘﻪ . ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻃﻮﻳﻞ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﻦ ‏( 2897 ‏) ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ

Tidak akan terjadi kiamat sehingga bangsa Romawi sampai di A’maq atau Dabiq. Kedatangan mereka dihadapi oleh sebuah pasukan yang keluar dari kota Madinah yang merupakan penduduk bumi yang terbaik pada masa itu. Pada saat mereka telah berbaris, bangsa Romawi menggertak : “Biarkan kami masuk untuk membuat perhitungan dengan orang-orang kami yang kalian tawan!” Mendengar gertakan tersebut, kaum muslimin menjawab : “Demi Allah, kami tak akan membiarkan kalian mengusik saudara-saudara kami!” Maka terjadilah peperangan antara kedua pasukan. Sepertiga pasukan Islam akan melarikan diri, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama-lamanya. Sepertiga pasukan Islam akan terbunuh, merekalah sebaik-baik syuhada. Sepertiga yang lainnya akan memperoleh kemenangan dan tidak akan terkena fitnah sedikitpun selamanya. Kemudian mereka menaklukan kota Konstantinopel. Ketika mereka tengah membagi-bagi harta rampasan perang dan telah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon Zaitun, mendadak suara teriakan setan, “Sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal telah menguasai keluarga kalian!”
Mereka pun bergegas pulang, namun ternyata berita itu bohong. Tatkala mereka telah sampai di Syam, barulah Dajjal muncul. Ketika mereka tengah mempersiapkan diri untuk berperang dan merapikan barisan, tiba-tiba datang waktu shalat. Pada saat itulah Nabi Isa bin Maryam turun. Ia memimpin mereka. Begitu melihat Nabi Isa, musuh Allah si Dajjal pun meleleh bagaikan garam yang mencair. Sekiranya ia membiarkannya, sudah tentu musuh Allah itu akan hancur leleh. Namun Allah membunuhnya melalui perantara Nabi Isa, sehingga beliau menunjukkan kepada kaum muslimin darah musuh Allah yang masih segar menempel di ujung tombaknya. [HR. Muslim 2897]

Hadits di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin “menahan” sebagian orang Romawi yang disebut sebagai “saudara” oleh kaum muslimin. Para ulama menafsirkan bahwa mereka adalah orang Romawi yang telah masuk Islam dan tinggal bersama kaum muslimin di Syam.

Peristiwa ini mengingatkan kita akan peristiwa pasca shulhul Hudaybiyah, dimana orang-orang musyrikin Makkah memaksa mereka yang berhijrah ke Madinah setelah perjanjian disepakati, tidak diperkenankan dan dipaksa untuk pulang ke Makkah, walaupun akhirnya mereka tidak pulang ke Makkah.

Adapun yang terjadi di akhir zaman kelak, bahwa setelah kaum muslimin dan Romawi bersama-sama selesai memerangi “musuh dari belakang”, banyak di antara orang-orang Romawi yang lebih memilih tinggal di Syam (berislam). Hal ini membuat orang-orang Romawi geram dan menghendaki mereka untuk kembali (murtad), namun kaum muslimin melindunginya. Saat itulah Al Malhamah terjadi yang kemudian diikuti beberapa peristiwa sebagaimana yang diriwayatkan tersebut.

…bersambung

Total Views: 1317 ,

Latest News

To Top